Karyawan

5 Tips Merencanakan Sabbatical Leave Agar Liburan Lebih Nyaman

DoranDev – Seperti yang kita ketahui sebelumnya, sabbatical leave mungkin belum banyak diketahui oleh sebagian orang. Namun, jika Anda sudah memahami tentang cuti panjang, maka seperti itulah konsepnya. Lantas, apa saja tips merencanakan sabbatical leave yang dapat diambil kedepan? 

Sabbatical leave pasti akan membuat sedikit pekerjaan Anda menumpuk. Sebab, ketika Anda mengambil waktu cuti, maka Anda meninggalkan pekerjaan. Namun, hal itu dapat diatasi dengan merencanakannya secara tepat. Simak artikel di bawah ini untuk mengetahui penjelasannya! 

Apa Itu Sabbatical Leave?

Sebelumnya, dijelaskan juga mengenai pengertian sabbatical leave. Untuk dapat mengingatnya kembali, sabbatical leave adalah cuti yang diambil oleh karyawan, meskipun mereka tetap mendapat gaji selama cuti. Biasanya digunakan untuk urusan yang sifatnya mendesak dan lainnya. 

Pemberian sabbatical leave awalnya hanya diberikan kepada akademisi seperti seorang profesor atau dosen di universitas yang ingin melanjutkan pendidikannya, namun seiring perkembangan zaman, sabbatical leave juga bisa diambil oleh para karyawan di perusahaan. 

Jenis cuti ini berupa istirahat penuh oleh karyawan dan tidak berkewajiban untuk mengurus pekerjaannya, namun tetap mendapat gaji. Biasanya perusahaan memberikan sabbatical leave kepada mereka/karyawan yang sudah mengabdi pada perusahaan atau bekerja minimal dua tahun. 

Baca Juga: Ini Penjelasan Lengkap Mengenai Tunjangan Karyawan

Mengapa Harus Mengambil Sabbatical Leave?

Mengambil sabbatical leave juga membawa keuntungan bagi Anda yang berprofesi sebagai karyawan di kantor. Melalui cuti panjang ini, Anda dapat sedikit mengurangi rasa jenuh dan stress Anda dari setiap pekerjaan dan tuntutan yang ada. Serta dapat melakukan hal lain di luar pekerjaan. 

Sehingga, ketika masa sabbatical leave Anda sudah selesai, Anda dapat menjadi produktif kembali di dalam pekerjaan. Bahkan lebih produktif dari sebelumnya. Sebab pikiran Anda sudah segar kembali dan dapat menyelesaikan setiap tugas dan tanggung jawab yang masih belum tuntas. 

Baca Juga: Apa itu Sabbatical Leave? Ini Penjelasan dan Manfaatnya!

Tips Merencanakan Sabbatical Leave

Setelah mengingat kembali pengertian sabbatical leave. Berikut ini adalah tips merencanakan sabbatical leave: 

1. Pikirkan Ulang Mengapa Anda Perlu Mengambilnya 

Ketika Anda ingin mengambil sabbatical leave, Anda perlu memikirkan ulang alasan yang tepat sehingga perusahaan akan mengizinkan Anda untuk cuti panjang. Diskusikan juga kepada orang terdekat Anda apakah keputusan yang ingin Anda ambil tersebut sudah tepat atau belum. Termasuk dengan rekan satu tim agar pekerjaan dapat berjalan dengan baik.

2. Pilih Tanggal Istirahat Anda 

Kebanyakan dari Anda pasti akan mengatakan lebih cepat lebih baik untuk beristirahat. Akan tetapi, apakah Anda benar-benar sudah menyelesaikan pekerjaan dan tanggung jawab Anda di kantor?  Jika Anda belum yakin, sebaiknya Anda menyelesaikan tugas Anda terlebih dahulu baru setelah itu memilih tanggal. Tentunya dengan durasi yang ideal juga. Sebab tanpa durasi yang ideal, sama saja Anda meninggalkan tanggung jawab yang telah dipercayakan kantor kepada Anda. 

Baca Juga: Apa Itu Remote Working? Ini Contoh dan Penjelasanya!

3. Tentukan Apa yang Ingin Anda Lakukan 

Setelah Anda mengambil cuti panjang, dapat dikatakan juga bahwa Anda akan menganggur sementara waktu. Oleh sebab itu, sebelum mengambilnya, Anda juga harus memikirkan aktivitas apa yang ingin Anda lakukan . Misalnya seperti Anda ingin menempuh pendidikan lanjut, menjaga anak, melahirkan, atau traveling untuk beberapa waktu lamanya.  Dengan demikian, maka Anda dapat dengan semangat untuk bekerja lebih giat sehingga ketika pekerjaan Anda sudah tuntas.  Selain itu, Anda dapat mengambil sabbatical leave dengan tenang. 

4. Meminta untuk Cuti Kerja 

Setelah ketiga tips di atas sudah benar-benar Anda pikirkan, berikutnya adalah memberanikan diri untuk maju menghadap atasan di tempat kerja untuk  meminta cuti kerja dan durasi sesuai kebutuhan. Anda mungkin sudah membicarakan subjek di tempat kerja untuk mengetahui apakah memungkinkan mengambil cuti panjang. Diperlukan waktu beberapa minggu atau beberapa bulan di perusahaan untuk mendapatkan jawaban akhir, jadi sebaiknya rencanakan jauh lebih awal.

5. Lakukan Rencana Anda 

Terakhir, sebenarnya poin ini berkaitan dengan poin nomor tiga . Pada poin tersebut dijelaskan untuk menentukan dengan jelas apa yang ingin Anda lakukan setelah Anda mengambil cuti panjang. 

Sehingga ketika Anda sudah merencanakannya dan berhasil mendapat izin untuk sabbatical leave, Anda hanya perlu menjalankan rencana awal Anda serta menyelesaikan masa cuti tersebut sesuai dengan perjanjian yang telah Anda sepakati agar pekerjaan Anda tidak terbengkalai.

Baca Juga: 10 Ide Farewell Party yang Keren dan Berkesan

Penutup

Itulah penjelasan mengenai pengertian sabbatical leave, mengapa harus mengambil juga tips merencanakan sabbatical leave. Tidak ada yang salah untuk mengambil sabbatical leave. Jika Anda merasa perlu, maka ambilah sabbatical dan juga sesuaikan kebutuhan Anda. Semoga Bermanfaat! 

Penulis: Filippo Aurel Kezia – (Petra Christian University)
Editor: Irfantoni Listiyawan

Read More
Bisnis

Apa itu Sabbatical Leave? Ini Penjelasan dan Manfaatnya!

DoranDev – Istilah sabbatical leave sebenarnya masih terdengar asing bagi kebanyakan orang Indonesia. Namun,  istilah tersebut jika diterjemahkan secara umum berarti cuti panjang. Sebab, orang awam lebih paham dengan istilah cuti panjang. 

Sebagian orang biasanya akan melakukan hal ini ketika sudah merasa jenuh dengan pekerjaan yang menumpuk dan membutuhkan healing. Namun, tahukah Anda pengertian, regulasi, serta perbedaan antara paid dan unpaid jenis cuti ini? Simak penjelasan lengkapnya melalui artikel berikut ini! 

Apa Itu Sabbatical Leave?

Sabbatical leave adalah cuti dimana para karyawan yang mengambil jenis cuti ini tidak perlu bekerja, tetapi masih tetap mendapat gaji. Biasanya digunakan  karyawan untuk hal-hal pribadi di luar pekerjaan yang membutuhkan waktu lama. Misalnya berpergian, belajar, atau menjadi sukarelawan. 

Pada awalnya, cuti ini hanya diberikan kepada akademisi. Seperti profesor atau dosen di universitas. Para akademisi biasanya mengambil cuti panjang atau Sabbatical leave dengan tujuan untuk melanjutkan pendidikan, penelitian lebih lanjut, atau mengajar di kampus lain.

Baca juga: Mengenal Kontrak Elektronik dalam Bisnis dan Pekerjaan

Paid VS Unpaid Sabbatical Leave

 

perbedaan paid dan unpaid sabbatical leave dilihat dari aturan cuti yang diberlakukan beberapa poin berikut: 

1. Dilihat dari Subjek Penerima

Cuti berbayar umumnya diberikan kepada karyawan tetap. Karyawan long time atau pekerja  lama dapat mendapatkan keuntungan tersebut. Hal ini berbeda dengan cuti tidak berbayar.

Pada cuti tidak berbayar, karyawan tidak akan diberikan gaji pada saat mengambil masa cuti atau libur kerja. Cuti tidak berbayar ini umumnya diberikan kepada para karyawan yang short time, minimal 2 tahun masa kerja.  Seperti kebanyakan kontrak kerja di Indonesia, mengingat perusahaan tidak membayar cuti tersebut. 

2. Dilihat dari Payment Gaji 

Antara cuti berbayar dan tidak berbayar sebenarnya dapat dilihat dengan jelas dari payment gaji. Jenis cuti berbayar pasti akan ada pembayaran gaji saat seseorang melakukan sabbatical leave. Berbeda dengan cuti tidak berbayar (unpaid), karyawan tidak mendapatkan gaji selama libur kerja. 

3. Dilihat dari Jangka Waktu 

Umumnya, cuti jangka panjang dilakukan minimal 1-2 bulan. Biasanya karyawan yang mengajukan cuti tersebut bertujuan melakukan hal-hal lain. Contohnya di Indonesia yaitu cuti melahirkan dan tetap dibayar. Sedangkan untuk unpaid sabbatical leave, jangka waktunya tidak terlalu lama. 

Baca Juga: Cek Keaslian e-Meterai Agar Tak Rugi, Begini Caranya!

Manfaat Sabbatical Leave

Sekalipun terdengar sepele, ternyata manfaat cuti panjang sangat vital bagi karyawan. Berikut beberapa manfaat sabbatical leave: 

1. Pikiran Lebih Fresh 

Bekerja setiap hari tentunya akan membuat karyawan merasa penat. Baik secara fisik maupun pikiran. Sehingga, cuti akan memberikan Anda waktu untuk beristirahat. Tidak hanya menguntungkan karyawan, namun cuti ini juga memberikan keuntungan kepada perusahaan juga. 

Jika karyawan Anda mengajukan sabbatical leave, maka seluruh ide, inovasi, serta kepercayaan dirinya yang karyawan sudah bangun sebelumnya, akan diberikan kepada perusahaan. Sehingga perusahaan juga dapat mengevaluasi dan memperbaiki kekurangan yang ada. 

2. Solusi Hemat Biaya dan Tenaga

Manfaat kedua yaitu dapat menghemat biaya dan tenaga bagi perusahaan dan karyawan. Mengapa demikian? Mungkin karyawan merasa bosan dengan pekerjaannya saat ini. Keinginannya untuk resign bisa saja terbesit. Sehingga pemberian cuti besar bertujuan untuk membuat para karyawan tersebut tetap loyal dan mempertimbangkan ulang tekadnya untuk resign. 

3. Karyawan Terpenuhi Haknya

Selama bekerja, perusahaan mendapatkan hak dari kinerja yang diberikan. Namun, di luar itu karyawan memiliki kebutuhan lain di luar pekerjaan. Misalnya seperti cuti melahirkan dan lainnya. Dengan adanya sabbatical leave, berarti perusahaan telah menjamin hak karyawan tersebut.

Baca juga: Pahami Apa Itu PKWT Sebelum Teken Kontrak Kerja!

Regulasi Sabbatical Leave di Indonesia

Aturan yang diberlakukan dalam UU No 13 Tahun 2003 berbunyi bahwa pengusaha wajib memberikan waktu istirahat atau cuti dengan waktu sekurang-kurangnya 2 bulan. Pemberian cuti tersebut dilaksanakan kepada karyawan yang sudah lama bekerja setidaknya 7 sampai 8 tahun. 

Pemberlakuan cuti besar juga dipertegas dalam peraturan lain. Dalam keputusan menteri, pengusaha tetap membayar upah penuh saat karyawan cuti besar. Sementara itu, karyawan yang memasuki tahun ke delapan berhak mendapatkan kompensasi istirahat tahunan dengan besaran setengah bulan gaji. 

Penutup 

Itulah penjelasan mengenai pengertian sabbatical leave hingga regulasi yang mana pengusaha perlu ketahui. Anda tetap harus memberikan hak kepada karyawan. Dapatkan software untuk aktivitas kantor agar dapat memajukan perusahaan dengan membelinya di  DoranDev. Semoga Bermanfaat!

Penulis: Filippo Aurel Kezia – (Petra Christian University)
Editor: Irfantoni Listiyawan

Read More